Teknologi untuk Bumi: Pengajar CCIT FTUI Bedah Strategi “IoT for Environment Sustainability” di Hadapan Mahasiswa UNSRI

Palembang, 4 Desember 2025 – Di tengah pesatnya perkembangan revolusi industri 4.0, tantangan keberlanjutan (sustainability) menjadi isu global yang mendesak. Menjawab tantangan tersebut, staf pengajar CCIT Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) mendapatkan undangan menggelar kuliah umum inspiratif di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sriwijaya (UNSRI), Indralaya.

Acara yang berlangsung pada Kamis (4/12) ini menghadirkan Listyo Edi Prabowo ST., MT. , pengajar IT berpengalaman dari CCIT FTUI dengan topik utama “Design and Implementation Internet of Things (IoT) for Environment Sustainability”. Dalam paparannya, Listyo menegaskan bahwa teknologi IoT tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai alat otomasi semata. Lebih jauh, IoT memegang peran kunci dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

“Teknologi harus menjadi solusi, bukan menambah polusi. Melalui desain IoT yang tepat, kita bisa menjawab tantangan krisis iklim dan keterbatasan sumber daya,” ujar Listyo. Ia menjabarkan implementasi IoT yang menyentuh tiga aspek fundamental keberlanjutan:

Environmental Sustainability (Lingkungan): Pemanfaatan sensor pintar untuk memantau emisi karbon dan manajemen limbah. Listyo mencontohkan penggunaan Smart Water Management yang mampu memantau penggunaan air dan mendeteksi kebocoran pipa secara real-time, sehingga mencegah pemborosan air bersih yang semakin langka.

Economic Sustainability (Ekonomi): IoT mendorong efisiensi biaya operasional industri. Dengan Predictive Maintenance, mesin pabrik atau alat pertanian dapat diperbaiki sebelum rusak parah, memperpanjang umur alat dan mengurangi biaya produksi yang terbuang percuma.

Social Sustainability (Sosial): Penerapan teknologi yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat, seperti pemantauan kualitas udara di kota padat penduduk atau sistem pertanian cerdas (Smart Farming) yang membantu petani lokal meningkatkan hasil panen di tengah perubahan cuaca yang tak menentu.

Tidak hanya bicara dampak, kuliah umum ini juga membedah sisi teknis. Mahasiswa diajak memahami konsep “Green IoT”, yaitu bagaimana merancang perangkat keras (hardware) yang hemat energi dan minim limbah elektronik (e-waste). “Kuncinya ada pada pemilihan protokol komunikasi data yang Low Power dan siklus hidup perangkat yang panjang. Kita tidak ingin membuat sensor yang baterainya harus diganti tiap bulan dan menjadi sampah,” tambah Listyo.

Antusiasme terlihat jelas dari ratusan mahasiswa UNSRI yang memadati lokasi acara. Diskusi berjalan interaktif membahas potensi penerapan IoT di Sumatera Selatan, mulai dari pengelolaan lahan gambut hingga sektor energi terbarukan.

Kehadiran pengajar CCIT FTUI di kampus UNSRI Indralaya ini menjadi bukti nyata komitmen CCIT untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya kompeten secara teknis, namun juga memiliki visi etis untuk menjaga bumi. Kolaborasi ini diharapkan dapat memicu lahirnya inovator muda yang siap memadukan antara kecanggihan teknologi dengan kelestarian alam.